Research Student di Jepang - Part 1

Dalam beberapa bulan ini (April - Agustus 2015), saya telah menjalani kehidupan sebagai mahasiswa research student di University of Tsukuba. Konon katanya masa-masa "research student" adalah masa bulan madunya freshmen di universitas. Mungkin bisa dibilang begitu, karena saat research student masih belum banyak tuntutan dari lab maupun tugas-tugas kuliah. Padahal belum tentu seperti itu juga. Karena beberapa lab (termasuk lab saya) adalah lab yang sibuk bahkan untuk seorang research student sekalipun juga kecipratan sibuknya :))
Di tulisan ini saya membuat rangkuman kegiatan saya selama menjadi research student di University of  Tsukuba. Semoga bisa menjadi gambaran dan pertimbangan teman-teman ketika akan melanjutkan pendidikan S2 di Jepang melalui tahapan research student terlebih dahulu.


Research Student di Jepang - Part 1

April 2015
Setibanya saya di Tsukuba, saya langsung bergabung dengan laboratorium. Hampir setiap hari saya menghabiskan waktu untuk membaca buku-buku di lab. Meski nggak semua ilmu yang dibuku bisa nyangkut di ingatan saya. Se-enggaknya itulah yang disarankan sensei, dengan tujuan agar saya bisa membiasakan kemampuan otak saya yang sudah sangat lama tidak bersentuhan dengan riset dan tulisan-tulisan ilmiah :D

Sebagian besar teman-teman angkatan saya penerima beasiswa monbusho di Tsukuba Dai menjalani kelas Japanese Intensive Course. Dari namanya aja udah ketahuan kan ini program untuk belajar bahasa Jepang secara intensif di kelas. Jadwalnya setiap Senin s/d Jumat dari jam 8:40 pagi hingga jam 15:00 sore. Jadi, sepulang dari kelas tersebut barulah mereka bisa ke lab untuk belajar, tapi waktunya tentu udah habis selama di kelas bahasa Jepang.

Saya sendiri nggak bergabung dengan kelas tersebut karena dari MEXT menempatkan saya untuk langsung menjalani kegiatan di lab sebagai research student. Belakangan saya tahu kalau sebenarnya sensei saya sendiri yang memilih saya untuk langsung menjalani program research student di lab-nya (sensei yang cerita sendiri ke saya). Beliau mengatakan hal tersebut kepada saya dengan alasan:
  • Saya tidak terlalu membutuhkan kemampuan bahasa Jepang yang sangat baik untuk mengikuti kelas-kelas di kampus. Bagi beliau, saya tetap bisa lulus hanya dengan bermodalkan bahasa Inggris saja. Yah... Insha Allah semoga aja beneran bisa begitu ya. Meskipun sebenarnya mungkin akan repot juga bagi saya sendiri jika tidak mengerti bahasa Jepang..
  • Beliau ingin saya lebih cepat untuk menjalakan riset di lab-nya karena otomatis jika saya mengambil kelas bahasa intensif maka saya akan terlambat sekitar 6 bulan untuk masuk ke program research di lab-nya. Btw, program kelas bahasa intensif tersebut dijalankan selama 6 bulan pertama masa research student.
Dengan tidak punya bekal kemampuan bahasa Jepang, saya, atas persetujuan sensei, mengambil kelas bahasa Jepang non-intensif di kampus. Ini tujuannya cuma untuk membantu saya berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari di Jepang. Kelas ini hanya 1 jam 30 menit setiap harinya. Sehingga nggak begitu menyita banyak waktu saya nge-lab. Padahal saya juga ngelab nggak rajin-rajin amat, sekitar jam 10 pagi - 9 atau 10 malam aja. Masih kalah dengan waktu ngelab temen-temen di lab saya ini mah. Mayoritas pulang jam 10 malam atau bisa lebih larut lagi. Tapi kayanya nggak ada yang sampe nginap dan tidur di lab. Jam 11 PM kayanya orang terakhir sudah pulang.

Mei 2015
Di bulan ini, saya jadi lebih sering diskusi dan meeting dengan sensei. Mungkin sekitar 2 kali dalam seminggu untuk membicarakan progress dan rencana riset saya. Setiap pertemuan itu, saya dapat beberapa target mingguan. Dan di setiap pertemuan, sensei dan saya membahas langkah apa yang akan saya lakukan untuk pertemuan berikutnya. Di bulan ini saya lebih banyak ngerjain literature review yang berkaitan dengan tema riset saya. So far, so good.
Semua ini semata-mata untuk membantu persiapan saya ujian masuk. Nanti rencana riset inilah yang akan saya presentasikan saat ujian masuk universitas.
Kebetulan di lab saya ini punya kebiasaan untuk membantu semua research student melakukan persiapan ujian masuk. Mulai dari membimbing latihan persoalan matematika, hingga persiapan rencana riset. Ada sekitar 4 orang yang dibimbing oleh lab saya terkait persiapan ujian masuk universitas. By the way, nggak semua lab lho yang kaya begini. Bahkan bisa saya bilang mayoritas di graduate school saya, calon mahasiswa (atau research student) mempersiapkan ujian masuknya secara mandiri. Belajar sendiri, nulis rencana riset sendiri. Gitu. Hehe... beruntungnya saya :)

Juni 2015
Saya sudah ngumpulin data sample di bulan ini. Sekalian ngelakuin simulasi untuk data-data yang bisa digunakan oleh public. Saya coba simulasi ke riset yang udah jelas-jelas berhasil. Untuk ngelihat sejauh apa tema riset saya cukup masuk akal untuk dikerjakan. Saya sampe ngulang-ngulang simulasi yang akan saya kerjakan tersebut, dan hasilnya saya diskusikan kepada sensei. Biar kalau ada yang salah, itu langsung ketahuan dan dapat masukan saran yang bagus buat persiapan riset saya.
Di bulan ini bertepatan dengan puasa Ramadhan, meski sedikit berat untuk membagi waktu antara ibadah dan belajar di lab. Lumayan sedih sebenarnya karena ibadah sunnah di bulan Ramadhan saya kali ini mungkin tidak sebaik yang teman-teman kerjakan. Selain itu, terkadang saya tidak sempat tidur untuk karena takut kebablasan dan nggak bisa bangun untuk makan sahur. Yang parahnya adalah, kelas bahasa jepang saya mulai keteteran karena susah banget bangun untuk masuk kelas pagi. haha... Insha Allah kalau sempat akan saya tulis pengalaman berpuasa di Jepang.

Juli 2015
Saya berhasil merampungkan proposal riset saya di bulan ini, proposal riset baru yang pernah di sarankan sensei pembimbing untuk saya jalankan nanti selama di Jepang. Proposal ini bersamaan dengan dokumen-dokumen lain, saya kumpulkan dan saya serahkan ke bagian penerimaan mahasiswa untuk selanjutnya di proses. Sambil menunggu jadwal ujian masuk (Agustus 2015), saya mempersiapkan materi presentasi dan melanjutkan diskusi untuk mematangkan riset saya secara keseluruhan. Persiapannya lumayan sih, sensei saya dan senpai-senpai banyak bantuin persiapan untuk ujian masuk sampe-sampe saya rajin banget lembur di lab sampai menjelang subuh. Well, sebenernya pernah sampe rumah pas bener-bener subuh :))
Juli 2015 bertepatan dengan hari raya Idul Fitri, saya sempatkan untuk berkumpul dengan saudara-saudara muslim di Mesjid Tsukuba dan keluarga muslim Indonesia. Ini merupakan hari raya pertama saya tidak bersama keluarga di rumah, sedih memang, kangen tentu saja. Alhamdulillah teknologi komunikasi sekarang sudah canggih, jadi bisa sungkeman virtual via video call. Ditambah lagi lontong opor buatan ibu-ibu Indonesia di Tsukuba bisa sedikit menghapus rindu makan masakan rumah. Bagi saya, lebaran cuma berasa pas di moment itu aja. Sehabis itu, di hari yang sama bahkan, saya melanjutkan aktivitas seperti hari-hari biasanya. Ngelab, bikin report, dan progress update layaknya hari biasa aja.

Agustus 2015
Ada yang bilang ujian untuk MEXT scholars itu formalitas aja. Aih siapa yang bilang? Ini saya nggak setuju sama sekali. Karena di ujian masuk universitas, kita benar-benar bersaing dengan calon mahasiswa lain. Jadi persiapan yang baik akan memperbesar peluang kita untuk dapat diterima di universitas.
Ujian masuk universitas dimulai tanggal 19 Agustus, saya kebagian jadwal di hari pertama. Dan coba tebak, saya juga yang pertama dipanggil untuk presentasi riset proposal di hari itu. Saya sudah banyak persiapan untuk presentasi ini, berulang-ulang presentasi di depan temen, sensei, atau kadang latihan presentasi sendirian. Selain itu, saya juga bikin question answer prediction untuk pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan, dan script presentasi yang saya bisa saya hafal (bukan dihafal 100% juga ya, kalau kitanya paham bakalan gampang buat presentasi).
Hari H ujian masuk universitas, saya ganteng banget kayanya. Pake baju rapi, pake dasi. Nggak pernah-pernahnya begitu. haha. Saya masuk ke ruang ujian. Ada 5 orang professor di depan saya. Saya sama sekali nggak nervous, takut atau apalah. Saya santai banget malah. Professor yang pertama minta saya perkenalkan diri sambil dia cek data pribadi saya yang saya submit ke kampus. Awalnya professor ini ngomong pakai bahasa Jepang, saya nggak mudeng dan bengong. Akhirnya dia sadar saya nggak bisa berbahasa Jepang dan bertanya dalam bahasa Inggris. Syukurlah...
Ujiannya total 30 menit dengan masing-masing 15 menit untuk presentasi proposal dan 15 menit untuk tanya jawab. Ahh, 30 menit itu rasanya cepet banget. Alhamdulillah saya puas dengan ujian saya waktu itu. Saat ini tinggal menunggu hasil ujiannya yang akan diumumkan pada bulan September 2015. Bismillah. Doakan yaa!

***
Ini cerita singkat saya dari April - Agustus 2015 sebagai research student di University of Tsukuba. Pengalaman research student bulan-bulan ke depan akan saya tuliskan dalam Part 2. Please enjoy and let me know if you have any inquiry :)

Share this article please, on :
Share on fb Tweet Share on G+

0 Response to "Research Student di Jepang - Part 1"

Post a Comment

Silahkan bercerita, berkomentar menurut pengalaman dan pendapat anda, sesuai bahasan diatas
Terimakasih sudah menemukan kami disini