Pengalaman Berpuasa dan Berlebaran di Jepang

Tahun 2015 adalah kali pertama dalam hidup saya tidak merayakan lebaran Idul Fitri bersama keluarga di Pekanbaru, dan kali pertama lebaran saya di luar negeri. Untuk puasa, saya sudah beberapa kali tidak di rumah, jadi puasa kali ini sudah semakin terbiasa berpuasa tidak bersama keluarga.

Puasa di Tsukuba tahun 2015 ini bertepatan dengan musim panas. Kebayang kan gimana panasnya Jepang kalau musim panas yang bisa mendekati 40 derajat celcius. Ditambah lagi, waktu siang saat musim panas lebih panjang ketimbang waktu malam. Syukurnya, saat mendekati akhir bulan puasa cuaca di Tsukuba memasuki musim penghujan. Hampir setiap hari hujan deras. Bahkan ada 1 minggu yang hujannya tidak berhenti sama sekali. Rata-rata waktu berpuasa di Jepang saat musim panas adalah sekitar 17-18 jam. Jam 2:30 JST pagi sudah memasuki waktu subuh, dan berbuka puasa sekitar pukul 19:00 JST. Ternyata cukup lama ya. Sungguh menjadi tantangan bagi saudara muslim di Jepang dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Namun, setelah dijalani semua Alhamdulillah baik-baik saja. Saya sehat dan tidak merasa capek atau lapar yang berlebihan saat menjalankan puasa di Tsukuba.

Setiap hari saya bangun pukul 1:30 untuk memasak makanan sahur. Masakan-masakan sederhana saja, yang penting ada protein, karbohidrat dan serat udah cukup bagi saya. Saya biasanya makan bersama teman satu asrama sesama muslim, Mas Fajar dan Roney. Roney juga mahasiswa Tsukuba asal Bangladesh, dia mengambil program doktor bidang Fisika disini. Sehabis makan sahur, kita langsung melaksanakan shalat subuh berjamaah di kamar dorm yang bisa dibilang sangat kecil untuk kita bertiga. Sempit-sempit sedikit nggak masalah lah ya. hehe. Pernah beberapa kali, saya diundang sahur di rumah tetangga dorm yang sudah berkeluarga untuk makan sahur bersama. Saya sih suka-suka aja, karena nggak perlu masak. haha.

Saat berbuka puasa, saya lebih sering berada di lab, lebih-lebih lagi kalau hari itu adalah hari efektif kuliah. Makanan berbuka saya biasanya saya beli di salah satu kantin halal di kampus. Menu pilihannya tidak banyak, hanya sup, nasi, roti, dan kare. Mungkin makanan sahur yang enak dan sesuai selera bisa saya masak saat weekend karena saya nggak ke lab dan punya waktu banyak untuk memasak.

Nah, yang seru saat weekend adalah berbuka puasa bersama di Masjid Tsukuba. Setiap minggunya masing-masing komunitas dari berbagai negara bergantian menyediakan makanan berbuka puasa. Pakistan, Indonesia, Malaysia, Arab, Bangladesh. Jadi saya saat hari minggu selalu ikutan acara ini, itung-itung silaturahmi dengan saudara sesama muslim. Masakan-masakan dari berbagai negara sangat unik dan enak-enak. hehe. Komunitas muslim Indonesia kebagian giliran untuk menyediakan makanan berbuka puasa di minggu kedua puasa. Wah, saya jadi ikutan bantu-bantuin temen-temen pengurus kegiatan ini memasak. Saya gabung dengan tim ibu-ibu yang masak gulai daging dan bungkusin makanan ke dalam kotak makan. Seru!
Tim bungkus-bungkus makanan berbuka puasa

Di Jepang, hari lebaran jatuh pada hari Jumat, 17 Juli 2015. Sama dengan waktu lebaran di Indonesia. Shalat Ied di Tsukuba dilaksanakan di Masjid Tsukuba. Banyak sekali teman-teman muslim yang datang ke Masjid Tsukuba hari itu. Semua berbahagia, meski ada rasa haru karena tidak berkumpul dengan keluarga di negara masing-masing. Ada pilihan lokasi lain yang biasanya temen-temen muslim Indonesia pilih, yaitu shalat ied di KBRI Indonesia/ Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT). Sehabis shalat ied berjamaah, saya dan teman-teman Indonesia (PPI Ibaraki) melaksanakan halal bihalal di community center di dekat asrama kampus. Ibu-ibu banyak mempersiapkan makanan khas Indonesia. Ya ampun... saya ngerasa seperti berada di rumah sendiri saja. Ada lontong opor, nasi uduk, kue-kue, pempek, siomay, dan macem-macem. Alhamdulillah. Meski jauh dari keluarga, saya ngerasa dekat banget dengan rumah. Kangen saya dengan masakan Ibu bisa terobati dengan mencicipi makanan-makanan ini.

Makanan pengobat rindu :) 

Saya jaim, makannya sok paling sedikit. Padahal udah nambah berkali-kali

Begitulah pengalaman saya saat berpuasa dan berlebaran di Jepang. Saya merasakan bagaimana rasanya tidak berkumpul bersama keluarga untuk pertama kalinya saat itu. Saya memang merasakan ada yang kurang, tapi semuanya kembali pada kita apakah kita bisa berbahagia dengan apa yang ada saat ini pada diri kita. Insha Allah tahun depan saya dan teman-teman yang saat ini sedang menuntut ilmu jauh dari keluarga bisa merasakan kembali hangatnya berpuasa dan berlebaran bersama keluarga di Indonesia :)

Foto bersama halal bihalal keluarga PPI Ibaraki
Share this article please, on :
Share on fb Tweet Share on G+

0 Response to "Pengalaman Berpuasa dan Berlebaran di Jepang"

Post a Comment

Silahkan bercerita, berkomentar menurut pengalaman dan pendapat anda, sesuai bahasan diatas
Terimakasih sudah menemukan kami disini