Backpacking ke Singapura (Part-1) : The Starting Point

Ini adalah catatan perjalanan saya sewaktu travelling ke Singapura pertengahan bulan September 2013. Pada awalnya, saya berkeinginan untuk mengambil sertifikasi TOEIC di Batam, sekalian niatnya mau liat-liat Batam, di salah satu Universitas disana. Kebetulan di Pekanbaru tempat saya tinggal udah nggak ada lagi tempat yang menyediakan test TOEIC, padahal dulunya ada tuh di SMKN 2 Pekanbaru. Sayang sekali. Jadilah saya berburu tiket pesawat murah (nggak murah juga sih sebenernya) yang bisa membawa saya ke Batam. Nah, disaat berburu tiket pesawat inilah dilema terjadi (halah), beberapa teman menyarankan saya untuk sekalian saja liburan ke Singapura yang hanya berada di seberang sana dari Pulau Batam. Benar, akhirnya saya tergoda untuk merencanakan perjalanan saya ke Singapura. Sejak saat itu, saya mulai mengubah itenerary saya yang tadinya cuma ada Batam disana, akhirnya lebih banyak Singapura-nya. Termasuk dengan mengubah jadwal keberangkatan saya menjadi tanggal 19 Sept 2013 s/d 22 Sept 2013 dan rute penerbangan saya.

Day 1: Tidur di Changi
Perjalanan saya dimulai dari Pekanbaru pukul 11.30 dari Bandara SSK II dengan tujuan Kuala Namu Medan. Inilah kenapa beberapa orang berargumen bahwa rute transit ini sangat aneh, karena menurut beberapa teman dan informasi yang ada di internet, saya punya opsi lainnya yang seharusnya bisa saya ambil: 
1) Penerbangan langsung ke Singapura, dan 
2) Penerbangan ke Batam, lalu dilanjutkan ke dengan menaiki ferry ke Batam.

Untuk opsi-1 saya nggak nemu penerbangan langsung dari Pekanbaru ke Singapura di tanggal 19 Sept 2013 , dan untuk opsi-2 itu terlalu mainstream you know. hahaha. Padahal sebenernya saya nyesel juga, karena setelah dihitung-hitung biaya penerbangan saya transit ke Medan itu lebih mahal ketimbang opsi-2. Jadi, saya ngaku salah kalau saya milih bikin opsi sendiri penerbangan dari Pekanbaru ke Singapura via Medan. Jiwa penasaran saya dan suka riset sendiri kadang bisa ngebawa saya ke penyesalan juga ternyata TT,TT

Saya sampai di Kuala Namu Medan sekitar pukul 13:00, cukup lama juga harus menunggu karena penerbangan selanjutnya terjadwal pada pukul 18:20an WIB. Lama banget! Karena bosen juga nggak jelas mau kemana, saya duduk-duduk aja di emperan bandara sambil nungguin waktu check-in. Lama waktu berselang, saya memutuskan untuk check-in lebih awal dan menuju Gate 1 untuk keberangkatan luar negeri. Sesungguhnya saya nggak sabar lagi untuk bisa berada di Changi Airport :D #norak #banget


Pintu keberangkatan di Kuala Namu Airport

Saya nunggu di Gate 1 di Kuala Namu, selama saya menunggu, saya berkenalan dengan Adil (bukan nama asli) anak Medan asli, soalnya ketahuan banget dari logatnya. Saya bisa bedakan itu karena saya punya beberapa saudara yang tinggal di sekitaran Tanjung Morawa dan sempat main-main kesana beberapa tahun yang lalu. Sudah lama sekali sebenarnya. Ngobrol-ngobrol lama, saya tahu Adil ternyata ingin mengunjungi kakaknya yang sudah sangat lama tinggal di Singapura. Kakaknya Adil ini sudah berpindah kewarganegaraan, sekarang sudah menjadi orang Singapura. Saya sempat ditawarin untuk tinggal di apartemen kakaknya, wahh tawaran yang menyenangkan, tapi di perjalanan ini saya nggak mau ngerepotin orang lain. Jadi saya tolak saja dan bilang nanti kalau saya ke Singapura lagi, saya akan kontak dia untuk numpang tinggal di apartemennya. Teng... 18.20 udah lewat.... ternyata penerbangan yang akan saya naiki ditunda, sekitar 2 1/2 jam. Nah, disaat penumpang lainnya gelisah karena pesawat udah delay cukup lama,  saya malah seneng penerbangannya ditunda karena dapat kompensasi berupa makan malam dari masakapai. Asik!!! Pinter juga sih cara begini setidaknya bisa ngurangin yang tadinya mau marah enggak jadi marah. Coba kalau enggak, udahlah lapar, lama nunggu pula, gimana penumpang enggak mau marah-marah?

Setelah makan malam gratis, barulah kita penumpang pesawat diminta untuk segera menaiki pesawat yang mengantarkan saya untuk memijakkan kaki di Singapura. Kabin pesawat Air Asia yang saya tumpangi itu tidak terlalu ramai, beberapa kursi masih kosong, termasuk window seat sebelah saya. Saya dapat posisi tengah, posisi yang tidak pernah saya harapkan. Beruntungnya saya bisa gonta-ganti posisi duduk dari tengah ke kursi paling pinggir yang berdekatan dengan jendela pesawat, saya bisa langsung lihat kelap-kelip lampu kota Singapura. Di pesawat ini saya sebelahan dengan Uncle Hendro (bukan nama sebenernya, yaiyalah mana ada orang Singapura namanya Hendro), begitu beliau ingin disapa. Saya ngobrol-ngobrol dengan beliau ini, dari ceritanya dia sudah sering sekali berkunjung ke Indonesia. Beliau cerita ke saya kalau dia suka sekali mengoleksi barang-barang etnik dari Indonesia. Dan hari itu, beliau baru saja dari Medan untuk mencari pakaian adat Minangkabau. Saya bilang ke dia, "Kalau mau cari pakaian adat Minang, kenapa ke Medan? Uncle sebaiknya pergi ke Sumatera Barat saja, daerah asal pakaian tsb". Setelah bicara seperti itu, saya merasa jadi Putera Indonesia yang membanggakan karena dengan lantang dan percaya diri bicara soal budaya ke orang asing. Haha. Selama pembicaraan tersebut, saya beberapa kali kesulitan untuk mendengarkan kata-kata Uncle Hendro, selain memang nada suara beliau ini agak aneh untuk seorang penutur English, juga karena telinga saya agak budek karena tekanan udara di pesawat. Beliau juga menjelaskan ke saya tempat-tempat yang seru untuk dikunjungi, serta menjelaskan lampu-lampu apa yang ada dibawah kami ketika pesawat sudah sangat dekat dengan Bandara Internasional Changi, saat itu saya makin deg-degan untuk pertama kalinya membolang (bocah petualang) di negeri Singa.

Saya menyocokkan jam tangan saya dengan waktu Singapura yang lebih cepat 1 jam daripada Indonesia, mungkin sekitar pukul 11.30an waktu Singapura saat itu. Lalu saya berpamitan ke Uncle Hendro sambil menenteng backpack saya turun dari pesawat. Beliau menawarkan kartu namanya jikalau saya ada apa-apa yang bisa dia bantu, dia akan senang hati menerima saya di Singapura. Tapi, lagi-lagi kartu itu saya simpan saja, tanpa niat sedikitpun untuk menghubungi beliau. "Saya akan berpetualang sendiri!", begitulah isi dari suara hati saya. Saya masih bersama dengan Adil turun dari pesawat dan menuju pintu keluar Bandara. Sepertinya Adil cukup ketakutan saat itu karena sebelumnya dia pernah dimarahi petugas imigrasi Singapura karena sesuatu hal, jadilah dia mengekor saya sampai pintu keluar Bandara. Padahal saya ingin lama-lama di dalam bandara untuk bisa menikmati fasilitas yang katanya keren-keren yang ada di bandara, tetapi demi nolongin orang jadilah saya ikutan keluar saja. Jeng... jeng... tibalah kami di depan pintu imigrasi bandara...


Pintu imigrasi Terminal 1 Changi Airport


Dari pintuSaya disambut seorang petugas imirasi bandara keturunan Melayu, sengaja nyari yang melayu karena yang lainnya wajahnya galak. haha. Ternyata di imigrasi itu nggak ditanyain yang macem-macem, malahan si abang-abang ini bicara pake bahasa Melayu karena lihat paspor saya bertuliskan Indonesia. Wah syukurlah... si Adil juga aman, nggak seperti yang dibilangnya saat di pesawat soal dia pernah dimarahi petugas imigrasi. Saya jalan mengantarkan Adil bertemu kakaknya di pintu masuk bandara. Saying good bye and then I was alone there... Nah, karena sendirian dan saya belum punya rencana malam-malam begini. Saya putuskan untuk cari mushala di dalam bandara dan kelilingan seluruh terminal di Changi Airport. Sayang seribu kali sayang setelah saya tanya ke petugas bandara, mushala di sini berada di bagian dalam sebelum keluar dari pintu imigrasi, jadilah saya shalat di belakang sebuah toko yang udah tutup malam itu. Bandara Changi sendiri terdiri dari 3 Terminal yang masing-masing ukuran terminalnya guede-guede bangeeeet! Saya sampai pegel jalan-jalan di sekitaran bandara. Untungnya dari satu Terminal ke terminal lainnya udah dilengkapi Skytrain yang menghubungkan antar terminal, pokoknya udah canggih banget. Namanya juga skytrain ya, bentuknya ya mirip kereta gantung kali dengan kecepatan yang luar biasa. haha ini pengalaman pertama saya naik skytrain. Seru! Asli norak banget :))


 Pintu masuk Skytrain ke Terminal 3

Di dalam Skytrain bersama dengan abang bule dari Perancis

Jalan-jalan saya di Bandara Changi masih berlanjut sembari saya mencari lokasi yang pas untuk tidur, saya udah nemuin beberapa opsi, tapi saya memutuskan untuk memilih lokasi di Terminal 3 saja. Nggak ada alasan apa-apa sih, cuma mungkin karena terminal ini lebih sunyi dan luas aja. Saya agak parno di Terminal ini sama beberapa petugas keamanan yang bawa senjata gede. Soalnya terkadang mereka suka bangunin backpacker yang suka tidur di bandara saat menjelang subuh untuk nanyain paspor. emang rese' aja kayanya --" Sekitar pukul 1 malam, saya memutuskan untuk tidur dan menutupi badan saya dengan kain sarung yang saya sengaja bawa untuk misi penting ini; Tidur di bandara. Hal ini karena mengingat kondisi bandara sangat dingin pada dini hari. Saya juga menjadikan tas punggung saya sebagai bantal dengan alasan kalau-kalau ada yang jahil mau mengambilnya, saya bisa terbangun dari tidur saya. Akhirnya, saya makin pede untuk menginap di bandara super gede ini karena bule-bule yang tampangnya lebih kelihatan tajir aja biasa-biasa aja kok tiduran disini, apalagi saya yang emang datang dengan modal pas-pasan. haha.


 Meramaikan suasana Changi dengan dengkuran 

Tempat tidur saya selama di Changi

Ternyata saya tidak sepenuhnya salah dalam memilih opsi keberangkatan saya ke Singapura, karena kalau dari Batam ke Singapura dengan naik ferry, belum tentu saya bisa lihat Bandara Changi yang megah ini. Backpacking ke Singapura Part 2 akan disambung di postingan selanjutnya yaa :D

Selanjutnya : Backpacking ke Singapura (Part 2)
Share this article please, on :
Share on fb Tweet Share on G+

0 Response to "Backpacking ke Singapura (Part-1) : The Starting Point"

Post a Comment

Silahkan bercerita, berkomentar menurut pengalaman dan pendapat anda, sesuai bahasan diatas
Terimakasih sudah menemukan kami disini